Asal Usul Ikan Pesut

Mencari kayu di hutan

Anak-anak masuk ke dalam hutan sambil ketakutan, tidak hanya takut kepada ibu tiri, Mereka juga takut masuk ke dalam hutan. Mereka mengumpulkan ranting-ranting kering yang mereka temui dan terus masuk ke dalam hutan.

Semakin masuk ke dalam suasana menjadi remang-remang, karena lebatnya hutan membuat cahaya matahari terhalang oleh daun-daun pohon yang tinggi.

“Kak aku lapar, perutku sakit sekali, sejak pagi tadi kita belum makan”

“Sabarlah dulu Dek, Semoga kita bisa menemukan pohon buah-buahan”

Lalu mereka melanjutkan pekerjaanya dan akhirnya bertemu dengan sebuah sungai kecil.

“Lihatlah di sana dek, banyak buah pisang yang sudah matang, ayo kita makan”

Anak-anak yang sudah kelaparan itu pun makan buah pisang dengan lahapnya,  tidak terasa hari sudah mulai gelap. Padahal kayu yang mereka dapatkan masihlah sangat sedikit.

“Kak, hari sudah mulai gelap dan kayu yang kita dapatkan masih sangat sedikit”

“Kita bermalam di hutan sini saja daripada di marahi ibu”

Akhirnya mereka memilih tidur di dalam hutan karena takut di marahi ibu tiri mereka. Setelah pagi tiba mereka pun melanjutkan mencari kayu bakar. Setelah kayu bakar di kumpulkan cukup banyak, mereka pun pulang ke rumah. Mereka berjalan sambil memikul kayu bakar yang sangat berat untuk ukuran mereka yang masih kecil.

Ketika mereka sampai di rumah dengan sangat kelelahan dan langsung memanggil ibu nya.

“Bu.. Kami sudah bawakan kayu bakar yang banyak, sekarang kami sangat lapar.  Bu tolong beri kami makan”

Namun tidak ada jawaban dari ibu tiri mereka. Sepertinya sang ibu tiri tidak ada di rumah. Lalu kakak dan adik itu pun masuk ke dalam dapur, namun tidak ada seorangpun di sana.

“Kak aku lapar sekali”

“Sabarlah dulu, di dalam kuali itu ada ketan hitam yang masih panas. Kita tunggu ibu datang baru meminta ketan panas tersebut.

“Kak aku sudah sangat lapar, Ayolah kita ambil saja sekarang tidak usah menunggu ibu dating”

Berubah menjadi ikan

Setelah menunggu ibu tiri mereka yang tidak kunjung datang, anak-anak pun langsung memakan ketan panas dari dalam kuali. Karena rasa lapar yang amat sangat mereka tidak merasakan panas ketan yang baru matang tersebut. Akhirnya satu kuali ketan mereka habiskan dan mereka sangat kekenyangan.

Ketika ayah dan ibu tirinya tiba-tiba dating, mereka terkejut melihat anak-anak memakan semua nasi ketan sampai tidak bersisa. Lalu si ibu tiri mengadukan kepada suaminya.

“Anak-anak ini terus bermain sampai tidak pulang dan tiba-tiba datang menghabiskan makanan kita”

Mendengar perkataan istrinya tersebut, sang ayah percaya begitu saja dan langsung memarahi anak-anaknya.

“Kalian memang anak-anak yang nakal, suka bermain hingga tidak pulang berhari-hari dan sekarang kalian pulang hanya untuk menghabiskan makanan”

Ayah yang percaya begitu saja ucapan istrinya terus memarahi anak-anaknya.

“Kalian ini memang anak-anak yang tidak tahu diri, makan dengan sangat rakus. Kalian ini anak manusia atau anak ikan?”

Setelah mengatakan perkataan tersebut, tiba-tiba terdengan suara guntur di langit. Lalu tiba-tiba anak-anak merasa kepanasan, ayah dan istrinya sangat terkejut.

“Aduh panas sekali”

Perlahan-lahan tubuh anak-anak berubah menjadi hitam, dan anak-anak yang kepanasan dan tubuhnya menghitam segera berlari menuju sungai. Kemudian mereka langsung menceburkan diri ke dalamnya. Lalu tidak lama kemudian tubuh anak-anak berubah menjadi ikan.

Sang ayah hanya bisa menangis melihat anak-anaknya berubah menjadi ikan. Anak-anak yang telah berubah menjadi ikan tersebut melihat sedih kepada ayahnya seolah-olah mengucapkan selamat tinggal.

Kemudian dua ekor ikan yang berwarna hitam tersebut berenang ke tengah sungai Mahakam dan tidak terlihat lagi. Dua anak-anak kecil tersebut sekarang telah menjadi ikan yang menghuni Sungai Mahakam.

Masyarakat di Kutai kemudian menyebut ikan tersebut dengan nama ikan Pasut atau pesut. Sedangkan masyarakat di pedalaman Sungai Mahakam menyebut ikan tersebut dengan nama ikan bawal.

Dari legenda ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa menjadi orang tua haruslah berhati-hati dalam berucap kepada anak-anak keturunannya, Agar tidak menyesal kemudian karena ucapan adalah doa.

462 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 Comment

  1. scrolling through random stuff posting a note about it pretty neutral, still maybe worth a look. neutral pointer: [url=https://tailor-queen.fr]background[/url] as is.

  2. lost track online again so putting it down not detailed at all, sometimes even this helps. dropping here: [url=https://masternanobio.es]masternanobio.es[/url] just context.

  3. scrolling through random stuff posting a note about it nothing special, still maybe worth a look. dropping here: [url=https://csencomo.it]csencomo.it[/url] no endorsement.