Mencari Sang Kakak
Berkali-kali ia berteriak, namun tidak ada jawaban dari kakaknya. Akhirnya ia pun membuka pintu rumahnya. Alangkah terkejutnya setelah mengetahui kakaknya sudah tidak ada di dalam rumah. Kemudian ia mencarinya di sekitar rumah, tetapi tidak juga menemukan kakaknya.
“Kak.. Kakak, di mana Kakak. Kak.. Kakak”
Ketika sedang menangis, tanpa sengaja ia melihat sobekan daun pare yang berserakan di sepanjang jalan di depan rumahnya. Akhirnya ia pun mengerti bahwa sang kakak di bawa pergi oleh rombongan raja tersebut.
Tanpa berpikir panjang lagi, Ia pun mengikuti sobekan daun pare itu untuk mencari kakaknya. Setelah berjalan selama dua hari, akhirnya sampailah ia di rumah Raja. Sebuah rumah panggung yang sangat megah. Di luar rumah itu adik Samba paria berteriak memanggil kakaknya yang sedang di kurung di sebuah kamar agar tidak keluar menemui adiknya.
“Kak kak samba …kak kakak samba jika kakak tidak sudi menemui adik, perlihatkanlah separuh wajah kakak di jendela. Jika adik tidak boleh melihat wajah kakak, perlihatkanlah tangan kakak. Jika kakak masih menyayangi adik tunjukkanlah kaki kakak”
Karena mengira sang kakak tidak sudi lagi menemuinya, akhirnya anak kecil itu pun berpesan.
Pesan Terakhir
“Baiklah jika kakak tidak mau menemui ku, maka aku akan pulang ke rumah. Namun aku akan menanam sebatang pohon kelor di sini. Apabila batang kelor ini layu berarti adik sedang sakit keras, dan jika batang kelor ini mati berarti adik juga mati.
Samba paria hanya bisa menangis mendengar semua pesan terakhir adiknya. Ia selalu mengkhawatirkan nasib adiknya yang tinggal sendiri di tengah hutan. Untuk mengetahui keadaan adiknya setiap hari Samba paria mengintip batang kelor itu melalui jendela rumah.
Pada suatu hari, ia melihat bahwa batang pohon kelor itu mulai layu. Melihat kondisi itu Samba paria mulai panik, ia khawatir jika adiknya harus hidup seorang diri di dalam hutan belantara. Ia memikirkan cara agar bisa melarikan diri dari istana raja.
Suatu ketika sang raja pergi berburu di hutan. Akhirnya Samba paria segera mengajak dayang-dayang istana untuk mandi di sungai yang berada tidak jauh dari istana.
Ketika sedang asyik mandi Samba paria membuang cincin pemberian raja ke dalam Sungai.
“Tolong-tolong cincinku jatuh ke dalam air”
Melarikan Diri
Mendengar teriakan tuannya para dayang segera melompat ke dalam Sungai. Mereka harus menemukan cincin itu, jika tidak mereka pasti akan di hukum oleh sang raja. Ketika para dayang tersebut menyelam di dalam air, ia segera mengenakan pakaiannya dan mengambil makanan.
Lalu segera memacu kuda untuk menemui adiknya. Sesampainya di rumah ia mendapati adiknya sedang sekarat. Dengan panik ia pun segera membuka bungkusan makanan yang di bawanya lalu menyuapi adiknya. Untungnya sang adik masih bisa mengunyah dan menelan makanan itu meskipun dengan pelan.
Akhirnya sang adik pun perlahan-lahan mulai pulih dan bisa di ajak berbicara.
Sebagai antisipasi jika sang raja mencarinya, Samba paria segera menghaluskan biji cabe rawit, merica dan daun kelor sebanyak-banyaknya. Kemudian ia mencampurkannya dengan abu dapur dan memberinya sedikit air sehingga bentuknya seperti adonan kue.
Benar saja, tidak lama kemudian sang raja benar-benar datang mencarinya.
“Hei… Samba paria buka pintunya, jika tidak aku dobrak pintu ini”
Samba paria segera membuka pintu rumahnya. Sambil membawa wadah dari tempurung kelapa yang berisi adonan yang di buatnya tadi dan langsung menyiramkan ke wajah sang raja. Sehingga rajapun kesakitan dan lari terbirit birit dan tidak kembali lagi ke hutan.
Sejak saat itu Samba paria pun kembali hidup damai rukun dan tenang bersama adiknya di tengah hutan belantara.
