Pulau Terpencil
Dewi Mas merasa sedih karena ia tinggal sendirian di sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni. Selama di pulau tersebut Dewi Mas bertahan hidup hanya dengan memakan tanaman sayur yang ada. Pada suatu hari ada sebuah kapal berlabuh di Gili tersebut.
Kapal tersebut di pimpin oleh seorang nahkoda yang baik hati. Ketika nahkoda dan awak kapal turun, ia pun kaget karena bertemu dengan Dewi Mas. Kemudian nahkoda tersebut di sambut baik oleh Dewi Mas.
“Aku tidak menyangka di pulau terpencil ini ada yang tinggal, terlebih dia adalah seorang wanita yang sedang mengandung”.
“Perkenalkan, namaku Dewi Mas tuan nahkoda, aku telah berhari-hari tinggal di sini aeorang diri”
“Sebenarnya apa yang membuatmu bisa sampai di tempat asing seperti ini”.
Dewi Mas pun menceritakan semua kejadian yang menimpanya kepada nahkoda, Dewi Mas juga meminta tolong kepada nahkoda untuk bersedia mengantarkannya ke Pulau Bali.
“Sungguh sangat malang nasibmu, aku turut prihatin. Akan aku antar kamu ke Pulau Bali, Kebetulan arah kapalku juga sedang menuju ke sana”
Akhirnya nahkoda yang baik hati tersebut mengantarkan Dewi Mas menuju ke Bali. Ketika di Bali Dewi Mas tinggal di sebuah gubuk kecil. Dan waktupun terus berlalu sampai tiba masa kelahiran Dewi Mas. Pada saat melahirkan, Dewi Mas sangat senang karena melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan.
Yang laki-laki di lahirkan bersama sebilah keris, ia di beri nama Raden Nuna Putra Janjak sedangkan yang perempuan lahir bersama sebuah anak panah ia di beri nama Dewi Rinjani. Tak terasa Waktu terus bergulir secara cepat, kedua bayi kembar tersebut tumbuh berkembang menjadi seorang pria yang gagah dan wanita yang cantik.
Mencari Sang Ayah
Suatu hari Raden Nuna Putra Janjak menanyakan tentang jati dirinya lebih dalam’
“Ibu…… Bolehkah aku bertanya sesuatu hal”
“Tentu saja anakku, apakah yang hendak kau tanyakan sebenarnya”
“Siapakah nama ayahku itu, kenapa aku dan Dewi Rinjani berada di sini tapa seorang ayah”
Mendengar pertanyaan itu Dewi Mas pun sedikit terkejut. Kemudian Dewi Mas pun mulai menceritakan semua kisah yang di alami kepada putranya tersebut. Mendengar semua cerita ibunya, Raden Nuna merasa tak percaya, kecewa sekaligus marah.
“Kejadian ini tidak bisa di biarkan begitu saja, Ibu juga berhak mendapatkan kebahagiaan!! aku harus mencari dan menemui Ayah”
“Tenangkanlah dirimu nak”
“Ibu izinkan aku untuk menyebrang menemui ayah”
“Karena niaymu tulus, ibu merestui kepergianmu nak, tapi ingat pesan Ibu berhati-hatilah selama di perjalanan dan selalu jaga sikapmu”
Kemudian Raden Nuna mengarungi lautan selama behari-hari demi bertemu dengan ayahnya Datu Tuan. Pada akhirnya, setelah sekian lama di tengah laut, Raden Nuna pun menapakkan kakinya di Pelabuhan Lembar. Kemudian Raden Nuna mulai menyusuri daerah itu untuk mencari pusat kerajaan Datu Tuan. Hingga pada akhirnya ia tiba di kerajaan Datu Tuan.
“Permisi pengawal, ijinkan aku bertemu dengan Raja Datu Tuan”
“Siapa kamu ini, dan apa urusanmu hingga ingin bertemu dengan Raja kami”
“Mohon maaf tuan pengawal, aku belum bisa mengatakan tujuanku hingga bertemu dengan Raja Datu Tuan”
“Ehhhh.. sombong sekali kau, Raja tidak bisa di temui semaumu”.
Pertarungan antara Raden Nuna dan pengawal kerajaan pun tak terelakan. Pertarungan sungguh berlangsung sangat seru, namun kesaktian Raden Nuna ternyata tidak sebanding dengan pengawal.
Semua pengawal kerajaan berhasil di kalahkan Raden Nuna. Pertempuran itupun terdengar di telinga Datu Tuan ia segera turun tangan untuk mengatasi keributan itu. Namun ketika perkelahian hendak terjadi sebuah kejadian aneh terjadi, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari angkasa.
