Perseteruan dengan Belanda
Dan Belanda pun membela Babah Liem. Sejak saat itu secara resmi terjadi perseteruan antara belanda dengan Si Pitung. Belanda dengan Babah Liem melawan Si Pitung dengan Rakyat Jelata.
Untuk memperkuat pasukan, akhirnya Si Pitung mendirikan padepokan beladiri sekaligus mengajarkan agama islam. DI dalam padepokan itu Si Pitung menyusun segala strategi dan rencana perlawanan kepada penjajah Belanda.
Salah satu strategi yang di rencanakan adalah rencanakan adalah merampok semua rumah tuan tanah yang kejam terhadap rakyat miskin. Kemudian, hasil rampokan akan di bagikan kepada orang-orang miskin dan kelaparan. Sedangkan Si Pitung sendiri tidak menikmati sedikitpun hasi; rampokan itu.
Rencana perampokan tersebut berjalan dengan lancar, hingga banyak tuan tanah merasa terancam atas akdi perampokan tersebut. Suatu hari, pada saat merampok salah satu rumah tuan tanah, Si Pitung tertangkap basah. Kemudian pemilik rumah melaporkan kepada penjajah Belanda.
Kemudian pejabat belanda yang bernama Schout Heyne sangat marah, dan berusaha untuk bisa menangkap Si Pitung. Tetapi Si Pitung selalau berhasil meloloskan diri dari upaya penangkapan itu. Pada akhirnya pihak kompeni menculik ayah dan guru si Pitung agar ia bersedia menyerahkan diri.
Kabar di tangkapnya ayah dan guru akhirnya sampai ke telinga Si Pitung. Namun ia tidak lansung menyerahkan diri, tetapi berkirim surat kepada pejabat Belanda agar melepaskan Ayah dan Gurunya.
Tetapi Belanda juga tidak kekurangan taktik, mereka melepaskan ayahnya, tetapi tida melepaskan gurunya. Mereka akan melepaskan gurunya setelah Si Pitung menyerahkan diri. Pada akhirnya Pitung pun mengajukan sebuah syarat agar ia tidak dipenggal dan berjanji akan mengembalikan harta yang telah di rampoknya.
Syarat tersebut langsung di setujui oleh Belanda. Tetapi pada kenyataanya saat Si Pitung menyerahkan diri pihak Belanda mengingkari kanjinya. Mereka memberondong Si pitung dengan tembakan yang menyebabkan Si Pitung meinggal dunia.
Hingga saat ini kuburan Si Pitung masih di rawat dengan baik. Begitu juga dengan rumahnya yang berarsitektur adat khas Betawi juga masih di rawat dengan baik. Perawatan dan pelestarian tersebut sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan beliau dalam membela rakyat Betawi dan menumpas penjajah Belanda.

Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.