Asal Mula Anak Sungai Mahakam

Dengan langkah pasti Siluq menyusuri sungai menuju hilir dengan menggunakan rakit. Ketika melihat rakit yang di tumpangi sang kakak melaju di atas  sungai, Ayus cepat-cepat berlari untuk menghalangi kakaknya. Dengan kecepatan larinya yang luar biasa, ia dapat mendahului kakaknya jauh di depan. Kemudian Ayus mengambil batu dan melemparkannya ke Sungai Mahakam.

Karena lemparan batu-batu besar dari Ayus , maka terbentuklah bendungan. Dan rakit yang di tumpangi Siluq pun menjadi sedikit melambat. Tepat ketika Siluq tiba di dekat bendungan, ia memberintahkan ayam jantan saktinya untuk berkokok.

“Ayo Berkokoklah, ayamku!” seru Siluq.

Ayam jantan sakti itu pun mulai berkokok, dan suara kokoknya seketika menghancurkan bendungan yang di buat oleh Ayus. Siluq pun kembali melaju dengan rakitnya menuju ke hilir. Ayuspun tidak mau kalah, ia kembali berlari kencang untuk mendahului kakaknya dan berusaha membuat bendungan lagi. Tapi ketika ayam jantan sakti milik kakaknya berkokok, bendungan itu pun kembali hancur.

Peristiwa itupun terjadi berulang kali. Tetapi Siluq dengan rakitnya tetap mampu melaluinya berkat kesaktian suara kokok ayamnya. Dan menurut cerita, bekas-bekas bendungan yang hancur tersebut kini menjadi jeram di hulu Sungai Mahakam.

Munculnya Anak Sungai

Sementara itu, Siluq dan rakit yang di tumpanginya terus melaju hingga tiba di muara Sungai Mahakam. Dan Ayus pun tidak lagi mampu untuk membuat bendungan, karena sudah tidak ada lagi batu-batu besar. Tetapi dengan kekuatannya, Ayus menambak dasar sungai dengan mengambil lumpur dan mencabut pohon-pohon nipah yang tumbuh di pinggiran sungai.

Lalu pohon-pohon nipah tersebut di tanam pada tambak buatannya, sehingga terbentuklah hutan nipah. Setelah hutan buatannya jadi, Ayus menunggu rakit kakaknya melewati tempat itu.

Tidak berapa Ayus menunggu, terlihat dari kejauhan rakit Siluq sedang menuju ke hilir. Dan ketika rakit itu hendak melewati hutan buatannya, ayam jantan sakti milik Siluq kembali berkokok. Tak ayal, hutan nipah itu pun hancur berkeping-keping, sehingga terbentuklah aliran-aliran sungai. Aliran-aliran sungai tersebut kini di kenal dengan nama Kuala Bayur, Kuala Berau, dan sejumlah delta di Kuala Mahakam.

Sebelum Siluq melanjutkan perjalanan menuju laut lepas, Ia berpesan kepada Ayus. “Ayus, tolong jangan kau halang-halangi lagi jalanku. Biarkan aku lebih mendekatkan diri kepada Sang Hyang Dewata di pusat air,” ujar Siluq, “Aku akan bersemedi dan menyembah dewa menenteramkan jiwaku. Dari jauh sana, aku akan berusaha untuk menjaga kamu dan Ongo.”

Usai berpesan, Suliq dan rakitnya tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di pusat air. Alangkah terkejutnya Ayus saat menyaksikan peristiwa itu. Ia benar-benar tak kuasa menahan kepergian kakaknya. Ia pun merasa menyesal karena telah melanggar janjinya.

112 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *