“Baiklah, nanti aku yang memasak,” jawab Siluq. Sebelum kedua adiknya berangkat, Siluq berpesan “ Kalau nanti sudah pulang dari hutan, jangan buka tutup periuknya ya”. Cukup tambahkan kayu bakar saja, kalau apinya mulai kecil.”
“Baik, Kak,” jawab mereke berdua serempak.
Pada saat Ayus dan Ongo berangkat ke hutan, Siluq mengambil beberapa lembar daun padi untuk dimasak. Setelah di bersihkan terlebih dahulu, kemudian daun padi itu di masukkan ke dalam periuk nasi yang sudah di isi air. Kemudian Siluq kembali melanjutkan semedinya yang tadi terganggu dan berdoa kepada dewa supaya daun padi yang ia masak berubah menjadi nasi.
Menjelang siang hari, Ayus dan Ongo kembali dari hutan dengan membawa kayu dan daun serdang. Mereka kelihatan sangat lelah dan lapar. Ayus pun langsung menuju ke dapur. Tetapi, alangkah kecewanya saat melihat periuk nasi masih berada di atas tungku.
“Kenapa periuknya masih di atas tungku? Apakah nasinya belum matang,” gumam Ayus.
Ayus yang di liputi penasaran, ingin mengetahui isi periuk itu. Dan, ia pun membuka penutup periuk tersebut. Betapa terkejutnya Ayus ketika melihat periuk yang hanya berisi bebrapa daun padi dan sebagian lagi berupa nasi. Karena takut ketahuan oleh kakaknya, Ayus pun menutup kembali periuk itu.
Sementara itu, Siluq pun baru saja selesai bersemedi, dan langsung menuju ke dapur untuk memastikan apakah nasinya sudah masak atau belum. Tetapi begitu ia membuka penutup periuk itu, ia terkejut karena masih ada daun padi yang tersisa.
“Hah, seharusnya nasi ini sudah matang semua? Tetapi, kenapa masih ada lembar daun padi yang tersisa?” gumam Siluq dengan heran, “Ini pasti kelakuan Ayus. Dia telah melanggar pesanku.”
Kepergian Siluq
Siluq pun terlihat sangat marah. Karena tingkah laku adiknya itu. Kini kesaktiannya untuk memasak daun padi menjadi nasi telah hilang. Dengan perasaan kesal, ia menghampiri Ayus yang sedang beristirahat di samping pondok mereka.
“Hai, Ayus. Kamu telah melanggar perintahku. Tidak lagi ada gunanya kita tinggal bersama-sama. Akan lebih baik aku pergi dari sini. Dan aku akan tinggal di dekat sumber mata air. Di sana aku bebas bersemedi dan menyembah dewa tanpa ada yang mengganggu,” ujar Siluq.
Usai hal itu, Siluq langsung mengemasi semua pakaiannya. Dan sebelum pergi, ia membawa serta ayam jantan sakti kesayangannya. Sebelum berangkat Siluq berpesan kepada adik-adiknya. “ Sekarang aku harus pergi. Jagalah di rimu baik-baik,” ujar Siluq. Ayus pun terdiam. Ia menyesal dan merasa bersalah atas perilakunya yang menyebabkan kepergian kakaknya.
