Sunan Kalijogo

Mulai Dakwah

Pada babad Demak yang di kutip Agus sunyoto dalam atlas Walisongo, Raden Syahid memulai dakwahnya di desa yang bernama Kalijogo Cirebon. Dari sinilah Raden Syahid mulai mendapatkan sebutan Sunan Kalijogo. Babad Cirebon mencatat Raden Sahid tinggal selama beberapa tahun di desa Kalijogo.

Upaya dakwah Sunan Kalijogo berhasil mengislamkan masyarakat di wilayah Indramayu dan Pamanukan. Sebagaimana di sebutkan dalam Babad Cirebon, Sunan Kalijogo pada awalnya menyamar sebagai pembersih di masjid Sang Cipta Rasa. Di masjid tersebut Sunan Kalijogo bertemu dengan Sunan Gunung Jati.

Dalam dakwahnya beliau seringkali melakukan penyamaran untuk menyembunyikan kelebihan yang di milikinya. Selama berdakwah Sunan Kalijogo menggunakan wayang sebagai sarana untuk menarik perhatian masyarakat. Di Pajajaran beliau berdakwah dengan menggunakan nama samaran ki dalang Sida Brante.

Ketika berdakwah di Tegal beliau di kenal sebagai ki dalang bengkok. Di Purbalingga masyarakat mengenal beliau sebagai dalang topeng dengan sebutan Ki Dalang bengkok. Sedangkan di Majapahit masyarakat mengenal beliau sebagai ki dalan Unehan.

Sunan Kalijogo menyampaikan ajaran yang sifatnya rohaniah berdasarkan tasawuf. Salah satu lakon wayang yang kerap di mainkan oleh beliau adalah Dewarucci. Reformasi bentuk-bentuk wayang di lakukan oleh Sunan Kalijogo. Bentuk-bentuk wayang yang sebelumnya menyerupai manusia di buat menjadi dekoratif dengan proporsi tubuh yang tidak menyerupai manusia.

Menciptakan Karakter Wayang

Dari segi karakter beliau membuat tokoh-tokoh baru yang tidak terdapat dalam versi asli Mahabharata maupun Ramayana. Tokoh tokoh Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong merupakan karakter hasil rekaan Sunan Kalijogo.

Reformasi bentuk wayang, penciptaan karakter baru, pengubahan cerita, perangkat gamelan, tembang serta suluknya merupakan sumbangan besar Walisongo, terutama Sunan Kalijogo bagi kebudayaan nusantara. Ahli sejarah Belanda Pigaeut menegaskan bahwa pertunjukan wayang sebagaimana yang sekarang ini di awali oleh Walisongo bukan dari generasi sebelumnya.

Beliau memperkenalkan Islam sedini mungkin kepada anak-anak. Tembang dan permainan anak-anak di buat oleh Sunan Kalijogo sebagai pendidikan keislaman sejak dini. Dalam bidang sosial beliau membentuk nilai-nilai etis kemasyarakatan yang bersumber dari ajaran Islam.

Di bidang politik dan tata negara beliau memberikan pelajaran kepada para penguasa tentang pengelolaan wilayah agar tidak melanggar fungsi utama negara sebagai pelindung rakyat. Sunan Kalijogo terlibat dalam berbagai peristiwa politik pasca runtuhnya Majapahit.

Berdirinya Kesultanan Demak tidak terlepas dari campur tangan Sunan Kalijogo dan anggota Walisongo lainnya. Di masa Kesultanan Pajang beliau sempat menjadi penengah konflik Sultan Hadiwijaya dengan Ki Gede Pemanahan. Sunan Kalijogo menegur sultan Hadiwijaya yang tidak kunjung memberikan hutan Mentao kepada Ki Gede Pemanahan.

Setelah di tegur Sunan Kalijogo, Sultan Hadiwijaya segera memberikan hutan Mentao yang di janjikannya kepada Ki Gede Pemanahan. Dan kelak di hutan Mentao akan berdiri Kesultanan Mataram suksesor dari Kesultanan Pajang.

Cakupan Dakwah

Sunan Kalijogo di kenal sebagai salah satu wali yang paling besar cakupan dakwahnya. Beliau berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam bidang pertanian beliau di kenal sebagai perancang alat-alat pertanian. Sunan Kalijogo juga memperhatikan masalah berpakaian masyarakat.

Beliau mendesain pakaian yang lebih sesuai dengan masyarakat Islam di Jawa. Dalam bidang arsitektur Sunan Kalijogo berperan dalam pembangunan masjid Agung Demak. Beliau membuat salah satu tiang penyangga utama atau yang di sebut sebagai sokoguru.

Tiang penyangga utama yang berada di timur laut di buat oleh Sunan Kalijogo. Keunikan tiang penyangga ini adalah di buat dari tatal atau serpihan kayu. Berbeda dengan tiga tiang lainnya yang di buat dari kayu utuh.

Tiga sokoguru lainnya Masjid Agung Demak di buat oleh Sunan Ampel Di sisi Tenggara, Sunan Bonang di sisi barat laut dan Sunan Gunung Jati di sisi Barat Daya.

Dakwah beliau menyisir segala lapisan masyarakat, hingga Prabu Brawijaya ke-5 raja terakhir Majapahit masuk Islam setelah bertemu dengan Sunan Kalijogo. Beliau merupakan salah satu wali yang di karuniai usia panjang. Beliau menyaksikan dan terlibat dalam transisi politik mulai dari Majapahit, Demak, pajang dan Mataram Islam.

Pada masa kemunculan Mataram Islam ini Sunan Kalijogo di anggap sebagai pelindung Kesultanan yang merupakan suksesor dari pajang. Setelah berdakwah sekian tahun lamanya Sunan Kalijogo tutup usia dan di makamkan di kadilangu Kabupaten Demak.

Hingga saat ini belum di temukan catatan historiografi yang menyebutkan Kapan wafatnya Sunan kalijogo. Sampai sekarang warisan Sunan Kalijogo terutama seni budaya dan ajaran spritual masih terus di lestarikan oleh sebagian besar umat muslim di nusantara, khususnya di tanah Jawa.

340 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *