Nabi Ibrahim AS

Vonis Hakim

Para hakim terdiam sejenak saling berpandangan dan berbisik-bisik, seakan-akan Ibrahim mengejek. Kemudian berkata si hakim:

” Engkau kan tahu bahwa patung-patung itu tidak bisa berbicara dan berkata mengapa engkau meminta kami bertanya kepadanya?”

Tibalah masa yang memang di nantikan oleh Nabi Ibrahim. Maka sebagai jawaban atas pertanyaan yang tersebut beliau berpidato menentang kebathilan yang  mereka pertahankan mati-matian. Dan hanya  semata-mata karena adat warisan nenek-moyang.

Berkata Nabi Ibrahim kepada para hakim itu.

“Jika memang demikian, mengapa kamu menyembah patung-patung itu, yang jelas tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar. Berhala-berhala tersebut tidak dapat membawa manfaat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan?.  

Alangkah bodohnya kalian semua dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu!.  Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sehat, bahwa persembahan kalian adalah perbuatan yang keliru yang hanya di fahami oleh syaitan. Mengapa kalian tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kalian, menciptakan alam sekeliling dan menguasakan kalian di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kalian dengan persembahan itu.”

Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya itu, para hakim mencetuskan keputusan bahwa Nabi Ibrahim harus di bakar hidup-hidup. Sebagai hukuman atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Maka berkatalah para hakim kepada penduduk yang hadir menyaksikan pengadilan itu:

“Bakarlah Ibrahim, dan bela lah tuhan- tuhanmu, jika kamu benar-benar setia kepadanya.”

Nabi Ibrahim Di Bakar Hidup-hidup

Keputusan mahkamah telah di jatuhakan. Dan Nabi Ibrahim harus di hukum dengan di bakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah di lakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan di saksikan oleh seluruh rakyat sedang di atur.

Tanah lapang untuk tempat pembakaran di sediakan dan di adakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya. Di sana para penduduk bergotong-royong membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat. Sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mereka yang telah di hancurkan oleh Nabi Ibrahim.

Para penduduk berduyun-duyun dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan wujud tanda bakti kepada tuhan mereka. Di antara mereka terdapat para wanita hamil dan orang-orang  sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya.

Mereka berharap memperoleh berkah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil pada saat proses melahirkan.

Setelah terkumpul kayu bakar di lapangan yang di sediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksana sebuah bukit. Maka berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim.

Kayu lalu di bakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya uap yang di timbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim di lemparkan ke dalam api yang menyala-nyala dari atas sebuah gedung yang tinggi. Di saat itu Allah SWT berfirman:

” Hai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”

Sejak keputusan hukuman di jatuhkan sampai saat ia di lemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal. Karena iman dan keyakinan beliau bahwa Allah akan menolongnya. Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan korban keganasan orang-orang kafir.

Kekecewaan Kaum kafir

Demikianlah apa yang terjadi saat Nabi Ibrahim berada di dalam perut bukit api yang dahsyat itu beliau merasa dingin sesuai dengan seruan Allah. Hanya tali dan rantai yang mengikat tangan serta kaki beliau yang terbakar hangus, sedangkan tubuh dan pakaian masih melekat utuh.

Tidak sedikit pun tersentuh oleh api, ini merupakan suatu mukjizat yang di berikan oleh Allah kepada hamba pilihanNya. Agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang di tugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.

Para penonton upacara pembakaran tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat. Tubuhnya  utuh dengan pakaiannya yang tetap seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikit pun.

Mereka meninggalkan lapangan herab dan takjub seraya bertanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain, bagaimana hal yang ajaib itu bisa terjadi. Padahal menurut anggapan mereka, dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan- tuhan yang mereka puja dan sembah.

Ada sebagian mereka yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama mereka namun tidak berani mengungkapkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain.Sedang para pemuka dan para pemimpin mereka merasa kecewa dan malu.

Karena hukuman yang mereka jatuhkan kepada  Nabi Ibrahim, serta kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan sia-sia. Sehingga mereka merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.

162 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *