Berubah menjadi naga
Setengah untuknya dan setengah lagi untuk Nyi Pasir. Usai makan hingga kenyang, berangkatlah Ki Pasir menuju ladangnya. Suasana begitu cerah, Ki pasir sangat bahagia. Dia merasa dapat menyatu dengan alam. Seolah-olah alam pun melukiskan keindahannya untuk Ki Pasir.
Dia merasa tubuhnya menjadi lebih segar dan kuat, serasa puluhan tahun lebih muda dari sekarang. Tiba-tiba kepala Ki Pasir terasa sangat pening. Sekujur tubuh mulai gatal-gatal. Semakin Ki Pasir menggaruk, semakin mengelupas pula kulitnya dan dari bekas luka itu mengeluarkan uap yang panas.
Ki Pasir pun panik dan segera mencari mata air terdekat untuk berendam agar panas dan gatal di tubuhnya mereda. Kulitnya mulai berubah sehingga terlihat seperti sisik hewan yang menyeramkan dan menakutkan. Setelah menemukan mata air dia segera berlari dan merendam tubuhnya di sana.
Di tempat lain Nyi Pasir telah sampai di rumah dengan membawa cukup banyak kayu bakar dari hutan. Ketika ingin masuk Rumah, dia melihat ada makanan di dekatnya. Dia pun akhirnya memakan separuh telur itu. Sesaat setelah makan , Nyi Pasir mengalami hal yang sama tubuhnya gatal dan panas.
Ia pun panik dan segera menyusul suaminya ke ladang untuk meminta bantuan. Namun dia tak dapat menemukan suaminya di ladang. Nyi Pasir berusaha terus memanggil Ki Pasir, namun tidak ada jawaban. Dia sudah tidak kuat. Nyi pasir pun menjari sumber air di sekitar ladang untuk merendam tubuhnya sambil mencari keberadaan Ki Pasir saat ini.
Sayup sayup dari arah mata air terdengar suara gemuruh. Seakan terdapat makhluk besar yang mengamuk di mata air itu. Nyi Pasir penasaran dan mencoba melihatnya dari balik semak. Nyi Pasir terkejut, seekor ular naga raksasa yang tengah berenang mengamuk di dalam mata air.
Telaga Sarangan
Namun dia merasa jika ular besar itu adalah perwujudan suaminya. Di tengah kepanikannya Nyi Pasir terperosok dan berguling di dekat mata air. Dalam sekejap badan Nyi Pasir juga berubah menjadi seekor naga yang kemudian masuk dalam mata air menyusul suaminya.
Di dalam air, naga Nyi Pasir mencari suaminya. Dia melampiaskan amarah karena telah merubahnya menjadi wujud ular. Naga Ki Pasir pun juga naik Pitam. Dia juga tidak terima jika berubah wujud. Naga perwujudan Ki Pasir merasa jika saat ini alam telah mengutuknya.
Dia pun mengajak naga Nyi Pasir untuk menenggalamkan Gunung Lawu dengan cara membuat pusaran air yang besar. Tanah di sekitar sumber air itu longsor. Semakin besar dan semakin dalam. Airnya pun seakan bertambah banyak dan jika di biarkan maka Gunung Lawu akan segera tenggelam.
Seketika itu Joko Lelung yang pulang dari semedinya mengetahui jika bencana yang sedang terjadi sekarang di sebabkan oleh kedua orang tuanya yang telah berubah menjadi naga serta memiliki niatan yang buruk. Kemudian, ia segeralah bersila dan memanjatkan doa.
Joko Lelung berdoa agar alam semesta bisa menundukkan kemaraham kedua ular naga raksasa itu. Tiba-tiba kedua naga perwujudan dari Ki Pasir dan Nyi Pasir itu bercahaya dan menjadi lebih tenang. Merekapun akhirnya moksa di dalam perairan tersebut. Joko Lelung pun sedih di tinggal kedua orang tuanya.
Bekas dari amukan kedua naga raksasa itu membentuk seperti sebuah telaga dengan pulau kecil di tengahnya. Untuk mengenang kebaikan kedua orang tuanya tempat itu akhirnya di berikan nama yaitu Telaga Pasir atau sekarang di sebut sebagai Telaga Sarangan.
