anekadongeng.com Cerita Islami MUSH’AB BIN ‘UMAIR ( II )

MUSH’AB BIN ‘UMAIR ( II )

Mush’ab bin ‘Umair kini meninggalkan semua kesenangan dan harta melimpah yang selama ini ia nikmati dan lebih memilih hidup sederhana. Seorang pemuda rupawan dan wangi itu kini tidak pernah tampak lagi, selain dengan pakaian yang paling kasar dan usang. Satu hari makan dan beberapa hari menderita lapar. Namun, jiwanya yang suci karena keluhuran akidahnya yang memancarkan cahaya Illahi telah mengubahnya menjadi manusia lain yang agung, di hormati, dan penuh wibawa.

Saat itulah, Rasulullah menunjuk Mush’ab untuk mengemban tugas yang paling berat pada saat itu. Ia menjadi duta ke Madinah untuk mengajarkan agama kepada kaum Anshar yang telah beriman dan berbai’at kepada Rasulullah di Bukit Aqabah, mengajak selain mereka untuk masuk Islam, serta menyiapkan Madinah untuk menyambut hijrah yang agung.

Ketika itu di antara para sahabat Rasulullah sebenarnya masih ada beberapa sahabat yang lebih tua dan lebih berkedudukan di bandingkan dengan Mush’ab, serta memiliki hubungan kerabat yang lebih dekat dengan Rasulullah. Akan tetapi, Rasulullah telah memilih Mush’ab al-Khair. Ia menyadari bahwa dirinya hendak menangani persoalan yang paling besar pada saat itu. Mush’ab bin ‘Umair akan bertanggung jawab dalam menentukan masa depan Islam di Madinah. Dan tidak terlalu lama kemudian menjadi Darul Hijrah, sebagai titik pusat dakwa para dai, markas besar para pembawa kabar gembira dan para kesatria Islam.

BAB VI

Mush’ab bin ‘Umair mengemban amanah tersebut dengan berbekal kecerdasan  dan akhlak mulia yang dikaruniakan Allah kepadanya. Hal itu membuat hati para penduduk Madinah terkesan dengan sifat zuhud, keluhuran, dan ketulusan Mush’ab bin ‘Umair sehingga mereka pun berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Ketika Rasulullah mengambil keputusan untuk mengutus Mush’ab  datang ke Madinah, di sana tidak ada yang memeluk Islam, kecuali ke dua belas orang yang sebelumnya telah membai’at Rasulullah dalam Ba’iat ‘Aqabah. Namun, hanya dengan beberapa bulan setelah Mush’ab berada di Madinah, sudah semakin banyak penduduk yang bersedia memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.

Pada musim haji, setahun setelah Bai’at ‘Aqabah, umat Muslim Madinah mengirimkan  delegasi yang mewakili mereka untuk bertemu dengan Rasulullah. Delegasi itu terdiri dari tujuh puluh mukmin lelaki dan perempuan. Mereka datang di bawah pimpinan guru dan utusan Nabi mereka yaitu Mush’ab bin ‘Umair.

Dengan kecerdasan dan kesungguhan usahanya, Mush’ab telah membuktikan bahwa Rasulullah tidak salah pilih. Mush’ab bin ‘Umair telah memahami apa misi yang ia bawa dan batasannya. la tahu bahwa dirinya adalah penyeru kepada Allah dan pembawa kabar agama-Nya yang manusia ke dalam hidayah dan jalan yang lurus. Mush’ab juga paham bahwa di rinya dan Rasulullah yang ia imani, tidak memiliki kewajiban selain menyampaikan.

Ketika Mush’ab di Madinah, ia tinggal bersama As’ad bin Zararah sebagai tamu di rumahnya. Ia bersama As’ad berdakwah mendatangi berbagai kabilah, rumah, dan majelis untuk membacakan Kitab Allah yang ia bawa di depan para penduduk. Dengan sangat lemah lembut, mereka berdua menyampaikan kalimat Allah, “Sesungguhnya, Allah adalah Tuhan Yang Esa.”

Mush’ab pernah mengalami beberapa situasi yang mengancam keselamatan dirinya dan sahabatnya. Jika bukan karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya , maka dalam situasi itu nyaris celaka. Pada Suatu hari ketika sedang berdakwah dan menyampaikan nasihat kepada beberapa orang, Mush’ab bin ‘Umair dikejutan oleh Usaid bin Hudhair. Ia adalah tokoh Bani Asyhal di Madinah, yang datang dengan menghunus tombaknya. Usaid merasa sangat marah dan dongkol kepada Mush’ab. Karena datang untuk merusak agama kaumnya, dan mengajak mereka untuk meninggalkan tuhan mereka sendiri. Lalu menceritakan tentang Tuhan Yang Esa yang belum pernah mereka ketahui dan mereka kenal sebelumnya.

129 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *