Raden Qosim termasuk salah satu pendukung aliran putihan yang di pimpin oleh Sunan Giri langsung. Aliran putihan artinya adalah, di dalam berdakwah menyebarkan agama Islam, beliau menganut jalan lurus, jalan yang tidak berliku-liku. Agama harus di amalkan dengan lurus dan benar sesuai dengan ajaran Nabi. Tidak boleh di campur baur dengan adat dan kepercayaan lama.
Meskipun demikian beliau juga tetap mempergunakan kesenian rakyat sebagai alat dakwah.
Hal ini dapat di lihat di dalam museum yang terletak di sebelah timur makam beliau. Di sana terdapat seperangkat bekas gamelan Jawa. Peninggalan tersebut menunjukkan bahwa betapa tinggi penghargaan Sunan Drajad kepada kesenian Jawa.
Ajaran Sunan Drajat Yang Terkenal
Di antara ajaran-ajaran beliau yang terkenal adalah sebagai berikut:
Wenehono teken marang wong wuto,
Menehono mangan marang wong kan luwe.
Wenehono busono marang wong kang mudo
Menehono ngiyub marang wong kang kudanan
Artinya kurang lebih demikian :
Berikan tongkat kepada orang buta
Berilah makan kepada orang yang kelaparan
Berikan pakaian kepada orang yang telanjang
Berilah tempat berteduh kepada orang yang kehujanan.
Adapun maksudnya adalah sebagai berikut:
Berilah petunjuk kepada orang bodoh (buta)
Sejahterakanlah kehidupan rakyat yang miskin (kurang makan)
Ajarkanlah budi pekerti (etika) kepada orang yang tidak tahu atau belum punya beradaban tinggi.
Berilah perlindungan kepada orang-orang yang menderita atau ditimpa bencana.
Ajaran beliau ini sangat supel, sehingga siapapun dapat mengamalkan sesuai dengan tingkat dan kemampuan masing-masing. Bahkan bagi pemeluk agama lainpun yang tidak berkeberatan untuk mengamalkannya. Di samping itu, beliau juga terkenal sebagai seorang Wali yang berjiwa dermawan dan social yang tinggi.
Beliau juga di kenal sebagai anggota Wali Songo yang turut mendukung dinasti kerajaan Demak dan ikut dalam mendirikan Masjid agung Demak. Simbol kebesaran ummat Islam pada waktu itu. Di bidang kesenian, selain terkenal sebagai ahli ukir, beliau juga sebagai pencipta Gending Pangkur. Hingga sekarang gending tersebut masih di sukai rakyat Jawa.
Sunan Drajad, demikian gelar Raden Qosim, di berikan kepadanya karena beliau bertempat tinggal di sebuah bukit yang tinggi, seakan melambangkan tingkat ilmunya yang tinggi, yaitu tingkat atau derajat para ulama’ muqarrobin. Ulama yang dekat dengan Allah SWT.
Beliau wafat dan di makamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Tak jauh dari makam beliau telah di bangun Museum yang menyimpan beberapa peninggalan di jaman Wali Sanga. Khususnya peninggalan beliau di bidang kesenian.
