Sunan Bonang

Strategi Dakwah

Hingga akhirnya beliau menemukan strategi dakwah melalui jenis-jenis budaya seperti wayang, tembang, serta adat-istiadat lainnya. Pendidikan juga menjadi perhatian utama dalam dakwah beliau. Salah satu santri beliau yaitu Raden Syahid kelak akan menjadi salah satu wali masyhur yang di kenal sebagai Sunan Kalijogo.

Pada naskah Hikayat Hasanuddin yang di kutip Agus sunyoto dalam atlas Walisongo menyebutkan bahwa setelah dari Kediri Sunan Bonang pergi ke Demak atas undangan Raden Patah. Selama di Demak beliau menempati sebuah desa yang bernama Bonang. Nama desa yang tidak jauh dari pusat Kota Demak inilah yang di nisbatkan kepada Raden Makdum Ibrahim sehingga di kenal dengan sebutan Sunan Bonang.

Pada masa-masa tersebut Raden Patah meminta beliau menjadi penghulu di Masjid Demak. Beliau juga terlibat dalam pembangunan masjid Agung Demak. Beliau membuat salah satu tiang penyangga Masjid, empat tiang penyangga utama Masjid Agung Demak dibuat oleh 4 orang sunan. Tiang penyangga utama sebuah bangunan dalam istilah Jawa di sebut dengan istilah Sokoguru.

Sunan Bonang membuat bagian barat-laut sokoguru Masjid Agung Demak. Sedangkan sokoguru yang berada di timur laut di buat oleh Sunan Kalijogo. Bagian Tenggara di buat oleh Sunan Ampel dan bagian barat daya di buat oleh Sunan Gunung Jati. Beliau sendiri tidak lama menjadi imam masjid Demak, beliau kemudian melanjutkan dakwahnya ke lasem.

Hijrah Ke Lasem

Selama di Lasem, Sunan Bonang tinggal di sekitar Bukit Watu layar. Kawasan di sebelah timur Lasem tersebut kemudian di kenal sebagai Desa Bonang. Beliau tidak hanya berdakwah di satu tempat, dari Lasem beliau kembali ke Tuban melanjutkan dakwahnya di sana.

Merujuk pada Carita Lasem yang di kutip Agus sunyoto dalam atlas Wali Songo. Sunan Bonang di angkat sebagai wali negara Tuban yang memiliki wewenang dalam hal keagamaan untuk menarik simpati masyarakat Jawa. Beliau mulai menggunakan kesenian sebagai sarana dakwah.

Beliau menciptakan alat musik yang di kenal sebagai Bonang. Peralatan musik tersebut banyak di gunakan dalam pertunjukan wayang. Beliau juga mereformasi Kesenian wayang agar lebih mudah menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat.

Bukan hanya untuk Kesenian wayang, Bonang juga di,gunakan oleh aparat desa untuk mengumpulkan warga. Kesenian wayang yang populer di kalangan masyarakat Jawa tersebut sangat efektif sebagai sarana dakwah. Tentu saja Sunan Bonang melakukan gubahan pada cerita maupun bentuknya agar lebih sesuai dengan ajaran Islam.

Beliau memainkan wayang sebagai bentuk penyampaian ajaran yang sifatnya ruhaniah. Dari segi bentuk beliau memperkaya kesenian pada wayang dengan memasukkan karakter ricikan. Beberapa karakteristik ricikan  yang di masukkan adalah kuda, gajah, harimau, Garuda, kereta perang dan rampogan.

Karya Sunan Bonang

Beberapa jenis tembang bertema religius juga di ciptakan oleh beliau, salah satunya adalah Tombo Ati yang masih populer hingga sekarang. Sebagai ulama yang giat berdakwah, beliau juga menulis naskah naskah berisi ajaran tasawuf. Betram Johannes Otto (BJO) Schrieke historiografi asal Belanda menyebutkan dalam bukunya Het Boek Van Bonang tentang naskah-naskah kuno yang di yakininya di tulis oleh Sunan Bonang.

Naskah-naskah kuno yang di teliti oleh Schrieke  berisi ikhtisar Sunan Bonang terhadap ajaran ulama-ulama pendahulunya seperti Al Ghazali maupun Abu shakur Bin Syuaib. Beliau di kenal sangat gigih dalam menyebarkan agama Islam. Dalam Kandhaning Ringgit Purwa di sebutkan, Ki Pandan Arang di Pulau Tirang untuk berdakwah.

Upaya tersebut berhasil mengislamkan penduduk serta pendeta Hindu di Pulau Tirang. Begitu pula dengan Batara Katong Putra Raja Brawijaya ke-5 yang berjanji masuk Islam setelah wafatnya sang ayah. Beliau kemudian mengirimkan Syekh Wali Lanang untuk menagih janji bathara Katong. Namun Bathara Katong telah berangkat menuju Pulau Tirang dan masuk Islam di bawah bimbingan Kyai Ageng Pandan Arang sebelum bertemu utusan Sunan Bonang.

Setelah berdakwah sekian lamanya beliau pun akhirnya tutup usia. Beliau di makamkan di sebelah barat alun-alun Kota Tuban.

153 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *