Si Pahit Lidah

Anekadongeng.com | Si Pahit Lidah. Dahulu di daerah Sumidang Sumatera Selatan hiduplah seorang pangeran bernama Serunting. Ia keturunan dari raksasa bernama Putri Tenggang.  Pangeran Serunting memiliki sifat iri hati terhadap apa yang di miliki orang lain.

Bersama istrinya ia hidup di istana, dan Serunting memiliki adik ipar bernama Aria Tebing.

Serunting memiliki sebuah ladang,  sama halnya dengan Aria Tebing. Letak lahan mereka bersebelahan dan hanya di pisahkan oleh pepohonan. Di bawah pepohonan yang memisahkan ladang mereka tumbuh tanaman cendawan. Namun cendawan yang tumbuh itu sangatlah berbeda.

Cendawan yang mengarah ke ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas. Sedangkan yang menghadap ke lading pangeran Serunting tumbuh menjadi tanaman yang tidak bermanfaat.

Hal ini menimbulkan rasa iri di hati Serunting

Iri Hati

“Mengapa tanaman cendawan yang menghadap ke arah ladangku tumbuh menjadi tanaman yang tidak bermanfaat. Sedangkan yang menghadap ladang Aria Tebing tumbuh menjadi emas. Ini pasti ulah perbuatan Aria Tebing”.

Keesokan harinya Serunting menemui Aria Tebing.  

“Aria Tebing, kamu berbuat licik. Cendawan yang menghadap kearah ladangmu tumbuh menjadi logam emas sedangkan cendawan yang menghadap kearah ladangku menjadi tanaman yang tidak berguna”.

“Aku tidak melakukan apa-apa. Cendawan itu tumbul alami seperti itu”.

“Sudahlah tidak usah berbohong, dua hari lagi kita akan bertarung bersiaplah Aria Tebing”  ucap Serunting menantang Arya Tebing.  

Aria Tebing pun merasa kebingungan, apa kesalahannya, sampai Serunting begitu marah.

“Bagaimana mungkin aku bisa mengalahkan Serunting.  Serunting orang sakti tak mungkin aku bisa mengalahkannya”

Kemudian, Aria Tebing mendapat ide untuk membujuk kakaknya agar memberitahukan kelemahan Serunting.

“Wahai kakakku, beritahukanlah rahasia kelemahan suamimu. Karena dalam dua hari lagi aku akan bertanding melawan suamimu. Kalau aku kalah pasti aku akan menjadi mayat”.

Karena merasa sayang kepada sang adik, akhirnya sang kakak memberitahukan kelemahan suaminya.

“Kesaktian Serunting berada pada tumbuhan ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angin, kalau kamu ingin mengalahkannya , maka seranglah tumbuhan tersebut”

Mendengar kelemahan calon lawannya, hati Aria Tebing pun menjadi senang. Kemudian Ia pulang untuk mempersiapakan diri.

Keesokan harinya Serunting menemui Aria Tebing untuk bertarung. Namun  sebelum bertanding Aria Tebing menancapkan tombaknya ke Ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angina. Karena serangan Aria Tebing ke Ilalang tersebut  Serunting pun terluka parah.

Bertapa

Karena merasa di khianati oleh istrinya, maka Serunting pergi mengembara ke gunung Siguntang untuk bertapa.  Pada saat sedang bertapa ,ia mendengar suara bisikan gaib.

“Hai Serunting, aku akan menurunkan ilmu. Tetapi dengan syarat kamu harus bertapa di bawah pohon bambu sampai tubuhmu di tutupi daun”  ucap Sang Hiang Mahameru.

“Baiklah, aku terima semua persyaratan itu”  jawab Serunting.

Tak terasa waktu telah berlalu dan tubuh Serunting pun sudah tertutupi oleh daun dari pohon bamboo tersebut. Kini kesaktian yang di milikinya adalah setiap perkataan yang keluar dari mulutnya akan menjadi kenyataan.

Karena keinginannya untuk menjadi sakti telah terwujud, Ia pun pulang ke kampung halamannya Sumidang. Namun di dalam perjalanannya ia mengutuk semua pohon tebu menjadi batu.

“Hai pohon tebu Jadilah Batu”

Dalam sekejap pohon tebu tersebut menjadi batu. Karena kesaktiannya bertambah kuat, maka Serunting menjadi orang yang angkuh dan sombong.  Oleh karena itu orang menjulukinya dengan nama Si Pahit Lidah.

Menjadi Baik Hati

Saat ia tiba di sebuah bukit bernama Bukit serut, ia mulai menyadari kesalahannya. Kemudian ia mengubah Bukit serut yang gundul menjadi hutan kayu yang rindang.

“Wahai Bukit Serut jadilah kau bukit yang di tumbuhi hutan kayu yang lebat”

Dalam sekejap Bukit itu berubah menjadi hutan kayu yang hijau dan tak lagi tandus.

Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke arah Sumidang. Tibalah dia di sebuah desa yang bernama Karangagung. Ia melihat sebuah gubuk tua yang menjadi tempat tinggal sepasang suami istri yang sudah tua Renta. Mereka ingin di karuniai seorang anak.

Karena merasa kasihan, Serunting pun mengubah rambut si nenek menjadi seorang bayi

“Wahai rambut jadilah engkau seorang bayi”

Dalam sekejab rambut tersebut berubah menjadi bayi mungil. Dan suami istri itu pun menjadi senang dan sangat berterima kasih kepada Serunting.  

Serunting pun merasa bahagia karena sudah bisa membantu orang lain. Meskipun kalimat yang keluar dari mulutnya berbuah manis orang-orang masih menjulukinya Si Pahit Lidah.

Begitulah perubahan sikap Serunting. Di sisa perjalanannya ke sumidang, Serunting belajar untuk membantu orang lain dan berusaha menolong orang yang sedang dalam kesulitan.

Pesan moral dari kisah Serunting adalah.  Ilmu yang kita miliki sebaiknya di manfaatkan untuk menolong dan berbuat baik kepada orang lain, bukan untuk menyombongkan diri.

36 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *