Kisah Nabi Nuh AS

Anekadongeng.com | Kisah Nabi Nuh AS. Nabi Nuh merupakan keturunan nabi Adam AS yang kesepuluh. Beliau di utus oleh Allah untuk memberi peringatan kepada kaumnya dan menyeru kaumnya untuk menyembah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya. Karena pada masa itu banyak orang yang menyembah berhala dan di anggap sebagai Tuhan. Berhala-berhala  itu ada yang bernama Waad, Suwaa’, Yaghuts, Ya’quq dan asr.

Waktu Nabi Nuh dalam berdakwa dalam selama 950 tahun, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Quran surat Al Ankabut 14. “Dan sesungguhnya kami telah mengutus Nabi kepada kaumnya, maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka di timpa musibah banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang dzalim”

Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang sudah tersesat, mengajak mereka meninggalkan syirik dan penyembahan berhala dan kembali kepada tauhid. Menyembah Allah Tuhan sekalian alam, melakukan ajaran-ajaran agama yang telah di wahyukan kepadanya. Serta menyerukan untuk meninggalkan kemungkaran dan kemaksiatan yang di ajarkan oleh Syaitan dan Iblis.

Nabi Nuh memperlihatkan kebesaranan Allah melalui yang di ciptakanNYA. Melihat alam semesta beserta isinya,berupa bulan dan matahari, langit serta  bintang-bintang yang menghiasinya. Bumi dan kekayaan yang terkandung di atas dan di bawahnya. Tumbuh-tumbuhan dan air yang mengalir, merupakan karunia yang memberi kenikmatan hidup manusia. Pergantian siang dan malam serta sebaliknya. Semua itu merupakan  bukti nyata adanya Tuhan yang wajib  di sembah. Dan bukan menyembah sebuah berhala yang di buat dengan tangan mereka sendiri.

Nabi Nuh Berputus asa Dari Kaumnya

Nabi Nuh selama 950 tahun berdakwah untuk menyampaikan risalah Tuhan. Mengajak mereka untuk meninggalkan dari menyembah berhala dan kembali untuk menyembah dan beribadah kepada Allah Yang maha Kuasa. Memimpin mereka keluar dari jalan sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang benderang.

Mengajar mereka hukum-hukum syarat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya. Mengangkat derajat manusia yang tertindas dan lemah ke tingkat yang sesuai dengan fitrah dan qudratnya. Dan berusaha menghilangkan sifat-sifat sombong  yang melekat pada sifat para pembesar kaumnya. Serta mendidik mereka agar berkasih sayang, serta tolong- menolong di antara sesama manusia.

25 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *