anekadongeng.com Cerita Islami MUSH’AB BIN ‘UMAIR ( III )

MUSH’AB BIN ‘UMAIR ( III )

Duta Islam Yang Pertama

BAB VII

Anekadongeng.com | MUSH’AB BIN ‘UMAIR. Tuhan-tuhan yang selama ini mereka kenal itu biasa terpajang di tempatnya masing-masing. Dan ketika seorang dari mereka memerlukannya, merekapun tahu di mana Tuhannya berada. la bisa segera mendatangi Tuhannya untuk menyampaikan keluhan dan permohonan kemudian Tuhannya itu pun menghilangkan bahaya darinya dan memenuhi doanya. Demikianlah gambaran yang terbayang  dalam benak anggota suku Abdul Asyhal.

Sedangkan Tuhan Muhammad yang sedang di terangkan oleh utusan yang datang kepada mereka, tidak ada seorang pun yang mengetahuidi mana  tempat-Nya atau melihat-Nya. Ketika kaum Muslimin yang sedang dalam majelis bersama Mush’ab mengetahui kedatangan Usaid bin Hudhair sambil menampakkan kemarahan yang membara dan emosi yang meluap-luap, mereka pun merasa khawatir. Namun, Mush’ab al-Khair tetap bergeming, tenang, dan tidak gentar sedikit pun.

Dengan begitu marahnya, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah sambil berkata, “Untuk keperluan apa kalian datang ke desa kami? Apakah kalian berdua akan membodohi orang-orang  kami? Pergilah dari desa kami jika kalian tidak ingin kehilangan nyawa!”

Bagaikan hamparan laut yang tenang dan dalam, laksana indah dan cerahnya cahaya fajar, ketulusan hati Mush’ab bisa menggerakkan lidahnya untuk mengucapkan perkataan yang baik. Mush’ab berkata, “Tidakkah anda berkenan untuk duduk terlebih dahulu dan mendengarkan?. Apabila anda senang dengan apa yang kami bawa, Anda dapat menerimanya. Namun, jika Anda tidak menyukai, kami akan menghentikannya.” Allahu Akbar. Bukankah ini merupakan permulaan yang indah dan akan berakhir dengan bahagia!

Usaid adalah seorang laki-laki yang berakal dan cerdas. Ia melihat bahwa Mush’ab hanya mengajaknya berdialog dan meminta pertimbangan pada nuraninya sendiri. Ia hanya di minta untuk bersedia mendengar, tidak ada  yang lain. Jika ia menerima, ia akan membiarkan Mush’ab. Namun, apabila ia tidak bersedia menerimanya, Mush’ab akan pergi dari desa dan penduduknya untuk pindah mencari desa yang lain. Mereka  tidak merugikan orang lain ataupun di rugikan. Pada saat itu Usaid pun menjawab, “Baiklah, sekarang aku insaf.”

BAB VIII

la lemparkan tombaknya ke tanah lalu duduk dan mendengarkan baik-baik. Selanjutnya, Mush’ab membaca al-Qur’an dan menjelaskan seputar dakwah yang di bawa oleh Muhammad bin Abdullah. Hingga wajah Usaid pun tampak cerah bercahaya. Usaid begitu larut mendengarkan dan meresapi keindahan serta kebenaran al-Qur’an yang di bacakan oleh Mush’ab. Sebelum Mush’ab selesai menerangkan uraiannya, Usaid bin Hudhair dan pengikutnya berkata, “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu. Apakah yang wajib di lakukan oleh orang yang berkeinginan memeluk agama ini?”

Mereka yang hadir menjawabnya dengan gema suara tahlil seolah hendak mengguncangkan bumi. Kemudian,  Mush’ab menjawab pertanyaan dari Usaid, “Hendaklah orang itu menyucikan pakaian dan tubuhnya lalu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.”

25 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *